teringat sekali kapan lensa kamera ku berkedip untuk terakhir kalinya.
mengambil sebuah moment pernikahan antara aku dan dia.
sebuah pelukan hangat darinya membingkai indah di album kehidupan kita berdua.
ingat sekali saat lensa kamera ku selalu berkedip mengambil senyum-senyum dari wajahnya.
ingat sekali saat lensa kamera ku selalu berkedip mengambil tetesan air mata di pipinya.
dari lensa ini aku tahu seberapa indah dia untukku.
dari lensa ini aku tahu seberapa indah aku untuknya.
aku belajar dari lensa ku untuk selalu dapat menerima kekurangan.
kekurangan cahaya ketika matahari meredup.
selalu berusaha mengindahkan gambar-gambar yang diambilnya.
mengindahkan gambaran tangisan dia.
aku tahu kapan saat dia bersedih.
aku tahu kapan saat dia mengangis.
dengan lensa kamera ku, memaksa dia untuk tersenyum.
denngan lensa kamera ku, memaksa dia untuk menghapus air matanya.
sehingga tidak ada lagi gambar haru sedih dari hatinya.
namun, ketika lensa kamera ku tak dapat lagi berkedip.
dapatkah dia untuk selalu tersenyum ?

—-
dikutip dari catatan kecil “Sang Photographer”

