Catatanku 2 [Ayahku sudah pulang kantor…]

Posted: July 27, 2010 in Catatanku
Tags: , ,

Siang ini matahari begitu menyengat, dan memaksaku mengayuh sepeda lebih cepat. mulut terasa haus, kering, ditambah perut yang sudah mulai keroncongan, membuat ku sedikit menyesali kuputusan yang aku ambil untuk pulang ke rumah melewati jalan yang lebih jauh. debu aspal naik dan sedikit menghambat penglihatan ku ketika sebuah mobil melintas di kanan ku. “ayo, sedikit lagi sampai rumah” sedikit terbayang oleh ku air dingin dari dalam kulkas dan kuteguk langsung dari botol air itu tanpa menuangkan kedalam gelas terlebih dahulu. sesekali kulihat kanan dan kiri anak-anak sekolah memasuki rumah nya. rumah ku memang sedikit jauh dan disudut komplek. wajar saja setiap pulang sekolah aku yang paling terakhir sampai dirumah.

didepan mata terlihat pertigaan terakhir menuju rumah ku, semakin cepat sepeda ku kayuh. langsung ku ambil belokan ke kanan sambil memastikan tidak ada kendaraan lewat dari arah kiri dan kanan ku. wush, roda depan ku hampir saja terpeleset akibat pasir-pasir yang berkumpul di tengah-tengah pertigaan yang membuat jalan sedikit licin. tapi karena aku pengendara sepeda yang handal, aku bisa langsung menyeimbangkan posisi ku dan sepeda untuk tetap melaju dengan kencang. bayangan-bayangan fatamorgana sedikit menutupi bentuk rumahku yang kecil dan sederhana. semakin lama semakin jelas terlihat bentuk rumahku yang bercat coklat kemerahan.

—————————————————————————————
“waalaikum salam” sambut ibuku dari dalam rumah dengan nada sedikit menyindir.
“eh iya, Assalamualaikum” sambut ku. walaupun agak telat mengucapkan salam, tapi yang penting aku sudah mengucapkannya.

secepat kilat aku membuka sepatu dan menjatuhkan tas didepan pintu rumah. berlari kecil kearah dapur dan langsung membuka pintu lemari es. tanpa pikir panjang aku melampiaskan angan-anganku sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Blesss.. begitu segarnya ketika air dingin itu melewati tenggorokanku yang kering sejak tadi.
ibu melihat aku melakukan hal itu, sebuah pantangan sebenernya minum air langsung dari botol nya. sorak saja ibu langsung memarahiku untuk tidak melakukan hal itu lagi, dan aku hanya cengar-cengir saja ditambah sedikit alasan haus yang hampir setengah mati. dan aku juga memberitahu ibu kalau aku telat pulang seperti biasa karena mengambil jalan pulang melewati lapangan golf.

aku sedikit direpeti ibu siang itu, mulai dari minum langsung dari botol, tas sekolah masih berada di depan pintu rumah, sepatu yang masih berantakan didepan beranda, kaos kaki yang masih melekat di kaki ku, seragam sekolah yang tidak langsung aku ganti. benar-benar hari yang melelahkan hari itu. aku memang anak yang sedikit bandel. tapi walaupun seperti itu ibu tetap tidak benar-benar marah kepadaku bahkan sampai memukul pun tidak pernah. sikap ibu yang seperti itu kepada anaknya membuat ku tetap mendengarkan semua nasihat ibu.
dengan sedikit bermalas-malasan aku kembali kedepan rumah membereskan kekacauan yang telah aku perbuat, tas sekolah aku gantungkan di kamar pribadiku, kaos kaki segera ku lepas dan kusisipkan kedalam sepatu hitamku kemudian menaruhnya diatas rak sepatu yang terletak disamping gudang belakang rumah. lumayan capek juga aku mondar mandir dari depan rumah, belakang rumah,dan kembali lagi ke kamar buat mengganti seragam sekolah. aku gantung kan seragam sekolah dibalik pintu dan segera mengganti bajuku dengan baju sehari-hari.

Kriiuuukkk. perutku semakin menjerit-jerit. cacing-cacing didalamnya seperti orang-orang ditelevisi yang sedang demo didepan gedung-gedung pemerintah memaksa meminta harga sembako diturunkan. bergegas aku mengganti pakaian ku dan segera pergi kedapur untuk mencari makan siang.
“ibu masak apa ya?” dalam benak ku sedikit terbayang menu kesukaan ku, sambal ikan lidah dan tumis kangkung. tapi ternyata diluar dugaan ku. sebuah piring besar terpampang diatas meja makan dengan beberapa potong ayam goreng diatas nya. disamping nya ada sebuah panci berukuran sedang berisi sop sayur yang masih panas, kelihatan dari asap yang mengepul keluar ketika ku buka tutup kaca panci tersebut. dan sebuah piring kecil di hadapan ku yang berisi sambel giling yang berwarna merah menyala. tanpa pikir panjang aku mengambil piring dan nasi dan semua lauk pauk yang sudah disediakan oleh ibuku. walaupun sedikit bertanya dalam hatiku ada apa gerangan ibu memasak lauk yang menurut keluargaku begitu mewah. menu makan siang yang luar biasa juga menurutku, ayam goreng dan sup sayur-sayuran.

belum selesai aku menuangkan kuah-kuah sup keatas tumpungan nasi dipiringku, terdengar suara pintu depan rumah terbuka.
“Assalamualaikum.. ” Sebuah suara seorang lelaki yang sedikit nge-bass terdengar jelas oleh ku dan ibuku.
kulihat ibu seraya bangkit dari sofa didepan televisi menyambut suara itu. tidak asing juga bagiku suara lelaki itu. sejenak dalam benakku aku berfikir seperti suara Ayah. tapi, tidak mungkin Ayah pulang kantor siang-siang seperti ini.
serentak ku letakkan piring makananku dan bergegas melompat dari kursi untuk melihat sapa yang barusan mengucap salam. dan ternyata benar, Ayah ku sudah pulang kantor.
Wah, tumben Ayah pulang kantor cepat seperti ini. biasanya juga pulang sekitar pukul 5 sore kalau tidak lembur. kalau lembur bisa sampai pukul 7 malam baru sampai rumah.
Aku tidak langsung bertanya pada Ayah gerangan kenapa cepat pulang kantor. rasa penasaran ku pada ayah dikalahkan dengan rasa lapar ku yang sudah menggebu-gebu sejak tadi. kulanjutkan dengan kembali kemeja makan dan mengambil piring makan ku, sedikit demi sedikit kuambil sup sayur dari dalam panci. terlihat kentang dan wortel mengapung dipermukaan sup, minyak kaldu juga terlihat memantulkan warna-warna pelangi diatas permukaan kuah sup. sedikit kucolekkan sambal merah yang menyala tadi dengan sendok kecil dan menaruhnya dipinggiran nasi.

“cal, sini dulu! ibu dan ayah mau bicara” ibu tiba-tiba memanggil nama kecil ku. nama ini pemberian dari nenek ku kepadaku ketika lahir, Faisal Abdi Nugraha. sedangkan Ical sendiri nama panggilanku di keluarga.

dengan sedikit menghela nafas panjang aku mendengar dan mencoba megikuti perintah ibuku. dengan sedikit lemas dan kecewa karena aku blum memilih potongan ayam yang akan menghiasi priring makan ku siang ini.
sejenak aku menoleh kanan dan kiri mencari dimana posisi ibu dan ayah saat ini. setelah kumenemukan mereka sedang duduk di sofa didepan televisi, ku taruh kembali piring makanku dan berjalan kearah mereka.

sedikit kubantingkan tubuh ku yang lemas karena masih menahan lapar ke sofa single di samping sofa panjang dimana ibu dan ayah duduk. kali ini aku benar-benar menuruti panggilan ibuku, sepertinya ada sesuatu hal serius yang ingin dibacarakan mengingat hal-hal aneh yang kurasakan sejak tadi. mulai dari menu makan siang yang mewah, ayah yang cepat pulang kantor. padahal tidak seperti biasanya aku dipanggil seperti ini, kalaupun aku disuruh sesuatu oleh ibuku biasanya aku menundanya sejenak dan menyelesaikan kegiatan yang sedang aku lakukan.

“cal, ayahmu naik pangkat” Ibu memulai pembicaraan.
“owh.. terus kenapa?” sambutku.
Seraya berfikir, pantesan ibu masak menu siang ini sedikit mewah. ternyata ibu sudah ditelpon ayah sekitar pukul 10 pagi setelah ayah menerima keputusan dari atasannya bahwa ayahku naik pangkat hari ini.

Sebelum ibu membalas pertanyaanku, aku tersadar bahwa di perusahaan tempat ayahku bekerja ada sebuah aturan yang mengharuskan kita sekeluarga buat pindah ke rumah yang lebih besar. sedikit aneh rasanya komplek yang aku tinggalin sekarang. Sekilas tampak sama, tapi jika diperhatikan ternyata terdapat kasta-kasta perumahan berdasarkan pangkat dan jabatan buruh karyawan diperusahaan milik Jepang ini. Jabatan buruh operator seperti ayah ku tinggal di rumah kecil bercat coklat, kasta kedua yaitu staff operator tinggal dirumah yang agak besar berwarna krim, dan kasta-kasta berikutnya tinggal dirumah yang memilik cat warna, ukuran, dan model masing-masing. semakin tinggi jabatannya semakin besar pula rumah yang didapat. tapi karena ayahku sudah naik pangkat ke staff operator, maka tidak lama lagi aku akan pindah ke rumah yang berwarna krim.

Aku tidak terlalu menghiraukan akan kepindahan keluarga ku ini. karena toh masih dalam satu komplek hanya letaknya saja yang berbeda. tapi aku sedikit bahagia disamping ayah ku yang baru naik pangkat yang membawa derajat kuargaku naik satu tingkat, aku juga bahagia karena letak rumah kasta kedua ini dekat dengan sekolah ku. jadi aku tidak perlu naik sepeda lagi untuk berangkat sekolah. cukup dengan jalan kaki saja.

==============================================
to be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s